PERKENALAN Suherdi dengan RE Siahaan dimulai dari Pujakesuma. Kendati bukan etnis Jawa, RE Siahaan yang Wali Kota Pematang Siantar tercatat sebagai Pembina Pujakesuma Pematang Siantar. Adapun Suherdi memegang kendali sebagai Ketua Umum DPW Pujakesuma.
Dari perkenalan di Pujakesuma itulah, keduanya bersepakat bergandengan tangan memperebutkan kursi gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013. ”Ketika itu ada wacana pencalonan. Dia (RE Siahaan) menawarkan kepada saya, mau tidak berpasangan. Ini kesempatan yang bagi saya tidak mungkin berulang dua kali,” kata Suherdi.
Tawaran disambut Suherdi. Apalagi, pria kelahiran Kisaran, Pematang Siantar, ini didukung pula oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang kemudian menjadi salah satu kendaraan pasangan itu menuju arena pilkada.
Sejumlah perbedaan latar belakang RE Siahaan dan Suherdi tidak menjadi batu sandungan untuk tetap bergandengan tangan. Dari sisi etnis, Suherdi berdarah Jawa, sementara RE Siahaan berdarah Batak.
Agama yang mereka anut juga berbeda, RE Siahaan yang Kristen berdampingan dengan Suherdi yang seorang Muslim. Begitupun latar belakang pekerjaan mereka juga berbeda, RE Siahaan birokrat dan Suherdi seorang pengusaha.
Perbedaan latar belakang etnis, agama, dan pekerjaan antara RE Siahaan dan Suherdi dijadikan sarana bagi pasangan ini untuk merangkul lebih banyak pihak agar memberikan suara bagi mereka. Mereka pun mengusung slogan Pasangan Pelangi karena aneka perbedaan yang mereka satukan dan juga slogan ”Pass” yang merupakan akronim pasangan Siahaan-Suherdi.
Pertemuan yang sudah terbangun saat bersama di Pujakesuma, menurut Suherdi, menjadi modal untuk masa depan. ”Semoga, kebersamaan ini akan terus terjalin setelah kami terpilih nantinya,” ucap dia lagi.
Sulasno, Wakil Sekretaris Pujakesuma Sumut, mengakui perbedaan karakter RE Siahaan dengan Suherdi sebagai modal bagi pasangan ini untuk maju ke arena politik sebagai gubernur dan wakil gubernur mendatang. ”Pasangan ini keterpaduan kasar dan halus. Tentu saja, kasar dalam arti positif,” ucap Sulasno, yang juga Sekretaris Tim Pemenangan RE Siahaan-Suherdi.
Dari sisi profesi, Sulasno melihat latar belakang RE Siahaan dari birokrasi akan sangat membantu untuk kemajuan Sumut ke depan. Sementara Suherdi berperan sebagai pemikir ekonomi Sumut, sesuai dengan profesi pengusaha yang sejak digelutinya.
Kesamaan
Selain perbedaan, Suherdi melihat ada kesamaan sifat dirinya dengan pasangan calon gubernur itu. ”Saya pikir, kesamaan kami adalah sama-sama pekerja keras. Bahkan bekerja hingga malam hari. Kami biasa hidup dengan bekerja keras. Saya melihat Pak Siahaan orangnya juga ulet. Ini potensi bagi kami berdua,” kata Suherdi, yang kerap tampil dengan belangkon Jawa itu.
Suherdi yang hijrah ke Medan sejak tahun 1979 memang pernah mengayuh pedal becak untuk mendapatkan uang yang bisa menghidupi dirinya sendiri. Semangat untuk bekerja keras inilah yang menjadi salah satu modal Suherdi memimpin Sumut.
Di samping itu, Suherdi yang mempunyai darah Jawa rupanya masih belum bisa menghilangkan sebagian karakter khas orang Jawa yang berbicara dengan lembut. Bahkan bahasa Jawa menyelip di sana-sini dalam tutur katanya.
”Kalau dipadukan antara watak orang Batak yang agak keras, kami yang orang Jawa yang tidak keras, maka kekurangan masing-masing bisa ditutupi. Keras yang saya maksud itu sebatas ucapan saja lho,” ucap Suherdi yang dalam berbagai kesempatan kampanye selalu mengenakan penutup kepala belangkon.
Apakah keduanya memang benar-benar pas, masyarakat bisa menilai sendiri. (art)
Sumber: Halaman Pilkada Kompas Sumbagut (5/4) Halaman 2
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang